Diskusi Lubdaka Jaman Now di Puri Anom Tabanan

Made Nurbawa

TABANAN Forum Pelestari Budaya Tabanan (FPBT) menggelar diskusi ‘Memaknai Lubdaka Jaman Now’  pada malam Siwaratri di Puri Anom Tabanan, Soma Kliwon Uye, Senin (15/1). Diskusi renungan malam Siwaratri dihadiri penglingsir Puri Anom Anak Agung Ngurah Panji Astika yang Ketua FPBT. Diskusi yang digelar tidak jauh dari titik nol (Catuspata) Desa Adat Kota Tabanan ini diakhiri tepat tengah malam, acara kemudian dilanjutkan dengan meditasi dan doa bersama.

Diskusi juga dihadiri Ketua Dekornas Puskor Hindunesia Ida Bagus Susena Pidada, Ketua PHRI Tabanan Gusti Bagus Damara, seniman muda dari Teater Jineng, I Gede Arum Gunawan, Perwakilan Jegeg-Bagus Tabanan, JCI Tabanan, perwakilan KNPI, KMHDI, Peradah, dan sejumlah anak muda perwakilan sekaa seni di Tabanan. Ketua Panitia, I Putu Arya Wiguna, mengatakan, selain memaknai Siwaratri dengan melakukan intropeksi diri, diskusi ‘Memaknai Lubdaka Jaman Now’ juga dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-2 FPBT yang puncaknya akan dilaksanakan pada bulan Pebruari 2018 mendatang. “Kami menggelar diskusi kecil pada malam Siswaratri bersama anak muda agar memahami kembali pesan moral yang ada pada kisah Lubdaka dan bagaimana relevansinya pada kehidupan sekarang,” ungkap Arya Wiguna.

Ketua FPBT, Anak Agung Ngurah Panji Astika, mengatakan, banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang bisa dipetik selama 2 tahun berdirinya FPBTi.  Kegiatan seni-budaya kini menjadi isu seksi di Tabanan dan anak muda alumi FPBT mulai berani tampil mandiri berkesenian di desa asalnya. “Itu malah bagus karena sejalan dengan visi misi  FPBT mendorong anak muda berkesenian di mana saja, tegas Ngurah Panji, panggilan akrab pengusaha muda yang juga Penglingsir Puri Anom ini.

Ngurah Panji menambahkan, FPBT terbukti bisa eksis sampai sekarang bukan karena uang. Sejak tahun pertama dibentuk, FPBT bergerak tidak ada uang, tetapi punya semangat untuk berkegiatan melestarikan seni-budaya. “Tahun pertama kami tidak punya peralatan seperti gamelan, kini sudah ada walaupun masih sederhana, begitu juga awalnya belum ada sekaa seni, kini anak-anak muda sudah membentuk sekaa seni,” imbuhnya. Bahkan sekaa-sekaa seni dari kalangan anak muda lainnya banyak yang bergabung dan berkegiatan di Puri Anom. “Uang bukan segalanya, semangatlah penentunya,” tandas Ngurah Panji.

Sedangkan Ketua Dekornas Puskor Hindunesia, Ida Bagus Susena Pidada, mengungkapkan, kisah Lubdaka pada Hari Siwaratri pada Purwanining Tilem Kapitu merupakaan kisah sepanjang jaman. Kisah Lubdaka memiliki nilai-nilai falsafah dan pesan moral yang sangat dalam. Mpu Tanakung adalah sastrawan besar nusantara di jaman kerajaan dulu, karyanya jauh lebih populer dari dirinya.  Dalam konteks Bali saat ini, pesan moral dalam kisah Lubdaka sangat sejalan, sekarang orang Bali mulai lengah,  lengah karena mulai mengutamakan materi dan tidak taat lagi terhadap tatanan yang secara budaya terbangun menjadi struktur sosial dalam kehidupan di Bali.

Ditegaskan, leluhur jaman dulu sangat paham bahwa struktur sosial sangat penting di dalam kehidupan sosial, bukan dimaksudkan untuk pengkotak-kotakan. Justru hal itu dimaksudkan agar unsur alam atau taksu-taksu kehidupan tetap berjalan harmonis. Menurutnya, intisari kisah Lubdaka ada dua yakni eling dan waspada. Eling berarti sadar akan hakekat dan nilai-nilai hakiki kehidupan. Sedangkan waspada lebih pada sikap diri, bahwasebagai orang Bali harus mulai awas dan teliti melihat gejala negatif yang muncul di tengah masyarakat saat ini. “Kisah Lubdaka mengajarkan kita untuk bisa berpikir bijaksana. Misalnya kalau sebagai pemimpin kita harus betul-betul sebagai pemikir untuk kesejahteraan orang banyak, jabatan jangan dijadikan sekadar pekerjaan atau mencari uang.  Krama Bali kini sudah sangat materialistik, Bali mulai kehilangan budaya yang bisa membangkitkan taksu,” tandas Ida Bagus Susena.

Hal senada juga disampaikan Ketua PHRI Tabanan, Bagus Damara. Menurut Bagus Damara, untuk di Tabanan seni budaya akan lestari apabila budaya pertanian tetap dipertahankan. Sedangkan seniman muda yang juga pembina Teater Jineng, I Gede Arum Gunawan, sangat mengapresisasi adanya FPBT. Apalagi organisasi ini sebagian besar anggotanya anak muda yang mau terlibat dalam kegiatan seni dan pelestarian budaya. Arum yang juga Guru di SMAN 1 Tabanan ini mengingatkan, anak muda yang aktif terjun di dunia seni jangan sampai lupa dengan swadarma menempuh pendidikan di sekolah.

 

Reportase:  I Made Nurbawa

Komentar