Rejang Ayunan, Penari Bergelantungan di Pohon Beringin

Goes Eka Bantiran

PUPUAN - Desa Pakraman Bantiran, Kecamatan Pupuan, Tabanan memiliki ritual unikserangkaian puncak upacara Ngusaba Gede di Pura Puseh lan Pura Desa yang jatuh setahun sekali pada Purnamaning Kalima. Ritual unik itu adalah Rejang Ayunan. Disebut Rejang Ayunankarena penarinya bergelantungan di pohon Beringin dan menari dalam kondisi karauhan(trance).

Pementasan Rejang Ayunan digelar sehari setelah puncak upacara Ngusaba Gede. Tarian sakral ini dikhususkan bagi kalangan teruna (remaja laki-laki).Tali tambang diikatkan pada pohon Beringin, dan pada seutas taliitubisa dipanjat 5-6 penari Rejang Ayunan. Para penari Rejang Ayunan mengenakan pakaian putih kuning, lengkap dengan sebilah keris terselip di pinggang.Sebelum tarian Rejang Ayunan dimainkan, para penari yang semuanya remaja laki-laki lebih dulu saling berebut untuk mendapatkan tali. Lalu, mereka memanjat tali yang didapatkan.

Tak hanya berebut mendapatkan tali, para penari juga berlomba untuk mencapai posisi teratas. Mereka yang berhasil mendapatkan posisi teratas akan mengambil sesaji berupa be siap (daging ayam) dan tipat akelan (ketupat sebanyak 12 biji). Daging ayam dan tipat akelan itu lalu disantap sebelum kemudian dilempar ke bawah untuk diperebutkan oleh penari lainnya. Semua adegan berlangsung dalam kondisi tali diputar keras-keras oleh pecalang.

Tokoh masyarakat setempat yang juga seorang pamangku, Jro Mangku Putu Agus Ekananda Arsajayamengatakan, selama tari Rejang Ayunan dipentaskan, belum pernah terjadi insiden ada penari terjatuh dari tali. Sebelum tari Rejang Ayunan digelar, empat tokoh pilihan yang disebut ‘pecalang sakti’ lebih dulu mencoba tali untuk dinaiki dan diayunkan. Bila pecalang sakti menyebut aman, maka dalam 2 jam berikutnya sudah bisa dilaksanakan ritual tari Rejang Ayunan. “Para penari Rejang Ayunan biasanya menari dalam keadaan trance, sehingga tingkah laku mereka aneh dan bisa sangat cepat memanjat tali,” jelas Jro Mangku Ekananda Arsajaya yang juga mantan anggota Fraksi PDIP DPRD Tabanan ini dilansir www.nusabali.com.

Menurutnya, tari Rejang Ayunan ini digelar sebagai ungkapan ekspresi kebahagiaan karena selama setahun diberikan anugerah rezeki oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga pelaksanaan yadnya berupa karya Ngusaba Gede berjalan lancar. Tari Rejang Ayunan juga sebagai wujud sradha bhakti karena harapan generasi muda selama setahun tercapai, baik di bidang pendidikan maupun karier. Ada tiga jenis Tari Rejang yang dipentaskan selama pelaksanaan karya Ngusaba Gede di Pura Puseh lan Pura Desa. Selain Rejang Ayunan, juga dilaksanakan tari Rejang Pulu dan Rejang. Khusus Rejang Ayunan dipentaskan sehari setelah puncak karya Ngusaba Gede, sementara tari Rejeng Pulu digelar dua hari pasca puncak karya Ngusaba Gede.

Pamangku Pura Puseh Desa Pakraman Bantiran, Jro Mangku Ketut Sutarsanamenambahkan, sejak puncak karya Ngusaba Gede di Pura Puseh lan Pura Desa, selalu dipentaskan 9 kali tari Rejang. Pada hari pertama (puncak karya), digelar 3 kali tari Rejang. Hari kedua, dipentaskan 4 kali tari Rejang. Hari ketiga,dipentaskan 2 kali tari Rejang.Yang pertama-tama dipentaskan adalah tari Rejang. Setelah itu, baru dipentaskan tari Rejang Ayunan dan Rejang Pulu. “Khusus tari Rejang Ayunan, saat para penari menari sambil bergelantungan di pohon Beringin, krama Desa Pakraman Bantiran harus fokus menonton. Mereka juga tidak boleh nyelag (berjalan lalu memotong barisan para penari),” ungkap Jro Mangku Sutarsana.

Jika pantangan ini dilanggar, maka krama yang melanggar dikenai dedosan (denda) yang disebut pengeremped. Dedosan ini harus dibayar dengan pis bolong a ringgit (2.500 keping uang kepeng Bali). Sementara itu, seusai pementasan tari Rejang Ayunan, biasanya dilanjutkan dengan tari Rejang Pulu. Berbeda dengan Rejang Ayunan yang penarinya bergelantungan di pohon, penari Rejang Pulu beraksi di halamanpura. Para penari Rejang Pulu menari sambil membawa wakul, sok, dan pulu (tempayan untuk tempat ari-ari, Red). Peralatan sok, wakul, dan pulu itu berisi hasil bumi dari perkebunan dan pertanian di Desa Pakraman Bantiran. “Tari Rejang Pulu ini menggambarkan kegembiraan dan rasa syukur krama Desa Pakraman Bantiran yang umumnya petani, karena telah dikaruniai hasil panen yang berlimpah,” jelas Jro Mangku Sutarsana.*

 

Foto : FB Goes Eka Bantiran

Komentar